Tampilkan postingan dengan label Hidayat's Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayat's Family. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Oktober 2012
Panggilan kesayangan..
Sejak sebelum menikah, Ayah itu suka menyapa Bunda dengan sebutan Hanhan, ato my Hanhan.. maksudnya sih honey gitu loh, panggilan kesayangan :) sekarang sih berubah jadi Bunbun ha ha ha..
Kalau Bunda manggil Ayah, yaa Ayah atau Han.. :) kadang-kadang suka di ikutin iyai Argi dengan muka jahil manggil Ayahnya "Haaan..." ck..ck..ck..
Untuk Arka panggilan kesayangannya mas Arka, untuk Argi jadi iyai Argi atau dd Argi dan Arza jadi adek Arza. Tapi kadang-kadang Bunda suka menyebut Arka, Argi dan Arza itu "malaikat Bunda" he he iya lah, mas, iyai dan adek Arza itu memang malaikat surga yang di titipkan Allah ke Bunda dan Ayahkan, setuju?
Nah, kalau iyai Argi punya panggilan khusus untuk adiknya, jadi walaupun sudah tahu nama adiknya itu Arza, tetap saja dia suka manggil dengan sebutan lain : Chibi atau Chesba, katanya sih artinya tetep dd Arza tapi dalam bahasa Cemaro.. *tepok jidat*
Kalau pagi-pagi bangun tidur trus iyai Argi lihat dd Arza lagi di gendong. pasti langsung teriak "Cheeesssbaaaa... sudah bangun yah?" sambil pipinya di colek-colek gemes, atau pulang sekolah buka pintu dan teriak mencari adiknya "Bunda, Chesba dimana... " OMG..
Label:
Hidayat's Family
Lokasi:
PC4/173 @Bontang, Indonesia
Sabtu, 10 Maret 2012
Sesi Foto Keluarga yang gagal
Malam ini Bunda dan Ayah dapat undangan kondangan di Town Centre. Asiik, kesempatan pakai baju bagus nih fikir Bunda.
Jam 7 malam teng Bunda sudah berpakaian rapi, mas Arka dan Iyai Argi juga sudah pakai baju batiknya. Sempet kebingungan juga karena ternyata baju-baju batik untuk kondangannya Iyai Argi gak ada satupun yang muat, haduuh.. akhirnya dipakai deh baju batik ungu yang sebenarnya sudah pas-pasan juga.
Sebelum berangkat Bunda sudah menyusui dd Arza biar anteng nanti ditinggal Bunda.
Melihat Ayah, mas Arka dan Iyai Argi pakai baju batik, Bunda ada ide untuk foto keluarga, ingin kayak keluarga-keluarga lain yang foto bareng-barengnya cakep-cakep. Yaah diruang tamu saja lah fotonya, jarang-jarang mas dan Iyai rapi begini kompakan sama Ayah dan Bunda, moment yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Akhirnya Bunda panggil suster untuk bantu fotoin kita sekeluarga. Dd Arza yang lagi asik tidur Bunda angkat.. ooooo ternyata itu kesalahan, dd Arza jadi terbangun dan menangis keras., sementara dd Arza menangis mas Arka, Ayah dan Iyai sudah siap di kursi ruang tamu sambil heboh bercanda-canda.
"Ya udah deh, hayyo kita foto-foto aja, gak papa dd Arza nangis" begitu kata Bunda, toh foto-foto gak akan lama, paling 5 menit..
Ternyata Bunda salah lagi, sesi foto kali ini jadinya lama banget karena mas Arka dan dd Argi saling rebutan posisi, setelah selesai rebutan posisi eee giliran sudah dijepret hasilnya goyanglah, mas Arka matanya di jelek-jelekin laah.... dan semua itu masih tetep diiringi suara tangisan keras dd Arza yang mengantuk..
Uugh, gemes..
Alhasil gagal sudah sesi foto kali ini....
![]() |
| Hiyaaa... Iyai Argi kancing bajunya copot.. |
![]() |
| Say ciiisss.. yaa amppuun mas Arka kenapa matanya begitu?? |
![]() |
| Tuh, mas Arka masih bercanda aja sama Iyai Argi sementara dd Arza masih tetep nangis... |
![]() |
| Oke sekarang gak bercanda yaa.. kita foto yang cakepp.. Toreng-toreenng.. mas Arkaaa!!!! |
Senin, 09 Mei 2011
Adik Kecil di perut Bunda
Hallo adik kecil,
Kamu belum lahir tapi Bunda sudah sangat sayang, begitu kata dokter diperut Bunda ada kamu, Bunda langsung stop diet Bunda, stop olahraga mengecilkan perut dan Bunda stop banyak hal demi supaya kamu lahir dengan kondisi sehat dan sempurna.
Bukan hanya Bunda yang semangat dengan kehadiran kamu, mas Arka dan Iyai Argi juga semangat banget loh, walaupun pada mulanya Iyai Argi gak terlalu setuju punya adik. Iyai Argi khawatir nanti mas Arka gak mau main lagi sama Iyai Argi. Tapi jangan khawatir, semua pasti disayang, semua pasti diajak main, iyakan mas?
Tuh, lihat akhirnya Iyai Argi mau juga cium-cium perut Bunda sambil bilang "Iyai Argi main dulu ya dek, adek Arsya baik-baik diperut Bunda, jangan nakal-nakal nanti Bunda kesakitan"
Atau mas Arka yang sibuk lihat-lihat kalender kehamilan dan baca-baca artikel perkembangan janin yang Bunda print dari internet. Kata mas Arka "waah, sekarang adek Arsya ukurannya baru 17 mm, kecil sekaliiii... " ha ha ha.. iyalah mas usia kehamilan Bundakan baru 7 Minggu.. :)
Sekarang Bunda mulai merasa mual-mual, tiap makan pasti muntah sampai mas Arka khawatir dengan kondisi Bunda. Katanya kenapa Bunda sekarang sering muntah? Lalu bergantian mas Arka dan Iyai Argi pinjitin Bunda, terharu Bunda jadinya, walaupun sebentar-sebentar bilang "sudah Bunda? Sudah Bunda?" tapi mereka tetep pijit leher dan kening Bunda dengan tangan-tangan kecilnya.
Suster Siti juga perhatian, setiap Bunda muntah dia khawatir msakannya yang bikin Bunda mual katanya "kenapa bu? kebanyakan minyak ya?" padahal memang morning sick aja.. :)
Syukur alhamdulillah ada suster Siti, syukur juga sudah lulus training jadi asisten Bunda, jadi semua orderan yang sudah terlanjur Bunda terima yang tadinya mau dibatalkan saja karena takut gak bisa diselesaikan akhirnya tetep lanjut. Suster bisa bikin basecakenya, Bunda tinggal hias saja.. jempol!
Untuk masak juga sudah bisa di handle suster, Bunda tinggal bilang mau makan ini-ini atau ini nanti suster tinggal cari resep yang biasa Bunda pakai lalu dimasak deh, alhamdulillah Bunda gak perlu terjun ke dapur lagi... muaaallnya itu loh yang gak tahaaan lihat dapur... sayangnya suster Siti masih belum bisa bikin edible, jadinya dengan berat hati banyak orderan edible yang Bunda tolak..
Lihat adik kecil, semua semangat menyambut kamu.. hayyoo tersenyum terus dan sehat yaa.. kita kerja sama supaya 7 bulan lagi kita bisa ketemu dan sama-sama tersenyum..
Selasa, 04 Januari 2011
Malam Minggu
Biasa nih, tiap malam Minggu mas Arka dan dd Argi suka tidur di kamer Bunda. Dan biasa juga Ayah dan Bunda kebingungan, pertama tempat tidur jadi terasa sempiiiiiittt banget, apalagi dd Argi tidurnya suka ganti-ganti gaya, kadang lurus teratur nah kalau gaya ini aman deh, kita bisa nyaman berjejer rapat, tapi kalau sudah gaya kodok yang kakinya kemana-mana atau gaya melintir yang tiba-tiba kepala sudah pindah posisi duh, susah, kadang Bunda ketendang, kadang mas Arkanya kedorong he he...
Akhirnya diatur posisi tidur supaya semua muat di tempat tidur yang kecil ini.
Ya yaa.. akhirnya kita semua bisa tidur disatu tempat tidur dengan gaya kotak, Ayah disisi panjang, Bunda disisi pendek jadi kaki ayah dan Bunda bersatu di pojokan, mas Arka dan dd Argi di tengah-tengah tempat tidur dengan gaya masing-masing.. hihihihi..
Eee selesai masalah posisi, sekarang masalah AC, Ayah, bunda dan mas Arka itu gak tahan dingin. AC selalu nyala dingka 26, pas dinginnya tappiiii dd Argi bercucuran keringet. Akhirnya kita bertiga pakai selimut, masalahnya selimut hanya ada 2, besar 1 dan satunya lagi kecil. He he he.. Ayah dan Bunda terpaksa tarik-tarikan selimut deh, mana posisi berjauhan pula duh duuuuhhh.. malam Mingguu....
Kamis, 30 Desember 2010
Setahun Yang Lalu
Oleh : Hasviniyanti
Setahun yang lalu aku begitu cemas waktu mau pindah ke Bontang, gak ada siapa-siapa.. gak ada yang aku kenal. Dan Bontang seperti-nya middle of nowhere waktu itu. Aku juga begitu berat meninggalkan Zona nyaman-ku, meninggalkan sahabat-sahabatku geng Pendopo, Jeng Lia, Jeng Dini, Nisa, Tari, Ari, Tri, Dyah, mama Gholy, teacher-teacher Islamic Centre bhuu huuhuu.. apa di Bontang aku bisa punya teman-teman seperti mereka? Makan bareng, ke salon bareng, bikin event-event bareng, ikutan KPA bareng, cari sponsor bareng, dimarahin orang-orang bareng.. duh, kangen masa-masa itu, bisa gak di Bontang aku kayak gitu?
Alhamdulillah waktu brosing-brosing resep eee aku terdampar di blog-nya mbak Estherlita (yang sampe sekarang menjadi salah satu orang favorit-ku di dunia maya, iyaa laa wong cerita-ceritanya seru banget, hidup dan omg resep-nya banyaaakkk bangeeeddddd, jempol deh! ), disitu banyak cerita tantang Bontang, khususnya rumah di PC. Seneng karena akhirnya ada bayangan kayak gimana tempat tinggal-ku nanti.
Selain dari blog-nya mbak Esther, aku juga dapat info tentang komplek dari Devi dan Anton, dua keponakan-ku yang pernah tinggal di komplek ini. Sambil panen dan nanem2 sayuran di Farmtown kita ngobrol-ngorol tentang Bontang :)) Selanjutnya kenalan dengan Rina dan om Auk lewat FB, oo dua orang malaikat kali ya.. (lebay mode on) yang banyak ng-bantu proses perpindahan kita yang ribeeeeettt bangedd... sampe hampir desperate karena banyak-nya kardus yang harus dikirim, banyak banget juga barang yang harus di tinggal bhuu-huu-hu.. terutama cermin kesayanganku yang terpaksa aku tinggal karena gak bisa di kirim, ke gedean euy, ongkirnya mahal.. bhuu huuhuuu.. dan juga koleksi buku-buku-ku, dan juga Michael, kura-kura kesayanganku..
Anyway, lewat jeng Rina juga aku kenalan dengan bakul kueh di Bontang yang super canggih ha ha haa.. jebolan-nya NCC dan teh Iceu, siapa lagi kalo bukan Jeng Dessy.. tarraaaa... udah pada lihat kue-nya kan? Cakep-cakep kan? Sampe sekarang jeng Dessy masih setia lho jadi tempat curhat dan tempat tanya-tanya tentang perkuehan, sayang ya, rencana mau latbar gak jadi-jadi.. he he he..
Pertama kali menginjak kota Bontang, aku langsung takjub dengan tatakotanya yang rapi, bersih, terutama didalam komplek. Takjub juga karena hari kedua, aku dengan setia nunggu tukang sayur yang gak lewat-lewat, akhirnya makan indomie karena baru ngeh kalo tukang sayur emang gak ada yang lewat depan rumah :P Sepi-sepi-sepi.. tetangga jaraknya jauh, gak ada yang duduk-duduk depan rumah, gak ada yang lewat-lewat ngobrol di depan pager .. eh, gak ada pager deng rumahnya.. gak ada tukang siomay lewat, gak ada bakso, gak ada mie ayam, gak ada sate, semua harus beli di luar komplek.
Semua rumah bentuknya sama, sampe nyasar berkali-kali aku di dalam komplek.. :P
Lalu aku ketemu Siriz yang cantik dan baik hati, yang baru terdampar di Bontang juga. Seneng banget akhirnya ada temen senasib yang sama-sama masih perlu adaptasi dengan suasana Bontang. Uuggh, langsung deh kita curhat-curhatan segala hal dengan seru-nya, dari A s/d Z sampe balik side A s/d Z lagi.
Udah segitu aja?
Ya nggak dong, terus aku ketemu Wiwiek di konsernya GIGI, kenalan dan lho kok langsung akrab cerita ini itu sampe akhirnya jadi pelanggan setia edible-ku.. *hugs*
Selanjutnya berangsur-angsur aku kenalan dengan banyak orang di arisan RT, di arisan section, di Kalbu, di geng kasus, di PWP, di PKT, di Berbas, di Tanjung Laut. Ada bu Winny yang bijaksana, ada mbak Eni dan mbak Yuli yang super kreatif, ada mbak Ade yang lembut, ada Nuke yang penuh semangat, ada Irly yang jauh disana, ada Honey yang udah pindah, ada Selly di Berbas, ada Ima di pengadilan Bontang, ada mbak Norma di PWP, teh Inong yang jago mengolah cokelat, Teh Taty yang suaranya merdu pisan, Teh Dewi yang olahragawan, Lian yang lucu, Teh Suci, Mbak Ati dan mbak Rina tetangga se RT-ku, mbak Hera yang berwibawa banget suaranya, mbak Chris yang penuh ide... dll dsb dst.. (maap yang belum kesebut, bukan aku gak cinta tapi takut note-nya gak cukup ;P)
Kembali ke laptop,
Alhamdulillah.. setahun yang lalu aku sangat cemas.. diakhir tahun ini aku ucapkan alhamdulillah, di Bontang, temanku bertambah banyak, sahabatku bertambah banyak, saudaraku bertambah banyak.. dan terutama, aku bisa tetap eksis.. jiaaahhh !!
Bikin kueh, bikin buku, bikin cerpen... Bha.. ha..ha.. next target mau coba-coba bikin baju ah kayak mbak Yuli, wish me luck yaa...
*terima kasih untuk semua teman-temanku, I lop u pull, karena kalian hidup-ku jadi penuh warna*
Kamis, 29 Juli 2010
kartu Kuning!
2 Minggu ini emang Bunda sibuk banget, latihan vokal group, latihan pentas komunitas menulis, bikin kue pesanan orang, bikin edible, bikin cokelat.. full, dari pagi sampai malam.
Masih juga Bunda sempet-sempetin untuk bacain buku untuk Arkagi sebelum tidur, cerita2 sebelum tidur dan doa bersama sebelum tidur.
Hari ini mas Arka protes berat, dengan terus terang mas Arkanya bilang gak seneng Bunda keluar rumah terus. "Biar ayah saja yang kerja Bunda, Bunda jangan capek-capek bikin kue melulu, gak usah sekolah-sekolah gak usah kerja-kerja.." begitu kata mas Arka.
Bunda jawab "Bunda-kan ingin pinter mas, jadi sampai tua-pun Bunda, mas Arka, dede Argi dan semua jangan berhenti mencari ilmu, belajar terus.. karena banyak ilmu yang kita belum tau, banyak ilmu-ilmu yang baru.."
Kata mas Arka lagi "tapi Bundakan sudah pinter, sudah bisa komputer, kenapa Bunda harus belajar yang Bunda sudah bisa?"
Bunda jawab "Bunda hanya bisa sedikit, masih banyak yang belum Bunda pelajari.."
mas Arka mulai merajuk dan marah mendengar jawaban Bunda.
Puncaknya, waktu tante Ade jemput Bunda mas Arkanya marah banget, tangannya terentang menghalangi jalan keluar rumah. Bunda sedih, Bunda ingin di rumah sama mas Arka, tapi Bunda juga perlu banget kursus Editing Foto ini.. maaf ya mas..
dan Bunda tambah sedih waktu mas Arkanya jatuh dan terpeleset.. ingin Bunda peluk dan cium mas Arka, ingin Bunda bersihkan kakinya yang kotor kena lumpur bekas hujan, tapi kalau Bunda lakukan itu semua, mas Arka akan semakin merajuk dan Bunda tidak akan bisa pergi tempat training..
Sigh... Bunda gak tenang selama training, inget mas Arka terus. Semoga mas Arkanya segera mengerti, hanya 3 hari mas, setelah itu Bunda ada dirumah seperti yang mas Arka mau. Amin.
Masih juga Bunda sempet-sempetin untuk bacain buku untuk Arkagi sebelum tidur, cerita2 sebelum tidur dan doa bersama sebelum tidur.
Hari ini mas Arka protes berat, dengan terus terang mas Arkanya bilang gak seneng Bunda keluar rumah terus. "Biar ayah saja yang kerja Bunda, Bunda jangan capek-capek bikin kue melulu, gak usah sekolah-sekolah gak usah kerja-kerja.." begitu kata mas Arka.
Bunda jawab "Bunda-kan ingin pinter mas, jadi sampai tua-pun Bunda, mas Arka, dede Argi dan semua jangan berhenti mencari ilmu, belajar terus.. karena banyak ilmu yang kita belum tau, banyak ilmu-ilmu yang baru.."
Kata mas Arka lagi "tapi Bundakan sudah pinter, sudah bisa komputer, kenapa Bunda harus belajar yang Bunda sudah bisa?"
Bunda jawab "Bunda hanya bisa sedikit, masih banyak yang belum Bunda pelajari.."
mas Arka mulai merajuk dan marah mendengar jawaban Bunda.
Puncaknya, waktu tante Ade jemput Bunda mas Arkanya marah banget, tangannya terentang menghalangi jalan keluar rumah. Bunda sedih, Bunda ingin di rumah sama mas Arka, tapi Bunda juga perlu banget kursus Editing Foto ini.. maaf ya mas..
dan Bunda tambah sedih waktu mas Arkanya jatuh dan terpeleset.. ingin Bunda peluk dan cium mas Arka, ingin Bunda bersihkan kakinya yang kotor kena lumpur bekas hujan, tapi kalau Bunda lakukan itu semua, mas Arka akan semakin merajuk dan Bunda tidak akan bisa pergi tempat training..
Sigh... Bunda gak tenang selama training, inget mas Arka terus. Semoga mas Arkanya segera mengerti, hanya 3 hari mas, setelah itu Bunda ada dirumah seperti yang mas Arka mau. Amin.
Selasa, 06 Juli 2010
Happy Birthday Ayah !
Today is my husband's birthday. It's difficult to imagine life without him because he's been in my life for over 7 years. He's been a source of strength, comfort, protection, love, and sometimes irritation (hah - I couldn't let this be all mushy!) I hope he's around for another 30 or 50 years, so that we can grow old together and enjoy the fruits of our labor. I pray that Allah SWT continues to bless this godly man with health and stamina to continue to guide our family for many years to come. Amin.
So to my husband, my soulmate, my best friend, the love of my life : You have another year to make the best out of. Another fresh start to achieve the goals you will set yourself. I promise to be by your side every step of the way.
I love you, Hanhan. Thanks for being you. Thanks for being mine. And thanks for being our kid's dad ♥
HAPPY BIRTHDAY HANHAN
WITH ALL MY LOVE ALWAYS ♥
So to my husband, my soulmate, my best friend, the love of my life : You have another year to make the best out of. Another fresh start to achieve the goals you will set yourself. I promise to be by your side every step of the way.
I love you, Hanhan. Thanks for being you. Thanks for being mine. And thanks for being our kid's dad ♥
HAPPY BIRTHDAY HANHAN
WITH ALL MY LOVE ALWAYS ♥
Senin, 28 Juni 2010
Prestasi
Beberapa detik terpana lihat layar computer, terus mulai mengernyitkan kening sambil berfikir : “apa ya prestasiku saat ini”
Perlu beberapa menit sampai akhirnya Bunda tulis ‘Juara 1 lomba menggambar tingkat TK se DKI Jakarta’ trus Bunda kirim ke panitia.
Setelah terkirim Bunda jadi berfikir, kenapa untuk menulis prestasi terasa sulit ya? Kenapa yang di tulis malah prestasi waktu masih TK? Apa Bunda sama sekali tidak berprestasi selama ini?
Akhirnya, sambil mendekor kue pesanan orang jam 11 malam, fikiran Bunda melayang-layang. Kenapa sekarang ini sulit membanggakan prestasi yang pernah di raih, apa mungkin karena standar prestasi sudah bergeser, atau mungkin karena Bunda sekarang terkena penyakit minder?
Pagi ini Bunda baca statusnya tante Lian yang ternyata juga bingung untuk menulis prestasi. Tante Lian ini teman Bunda di PTB yang sama-sama harus isi tentang prestasi untuk kepentingan publisitas. Teman-teman yang lain dengan lancar menulis semua prestasinya. Ada yang berprestasi ikut lomba-lomba, ada yang berprestasi di bidang sosial, ada yang berprestasi di karirnya.. loh, Bunda kok gak berani menulis prestasi yang sudah Bunda dapat selama ini.
Jadi sebetulnya, apa sih prestasi itu? Apakah pencapaian yang luar biasa yang sudah dicapai selama ini. Apa betul begitu?
Dan yang segera terbersit dalam fikiran Bunda adalah “Prestasi, hmm.. kapan ya Bunda pernah dapat piala atau piagam dalam lomba-lomba?” duh, kok ya kayaknya gak pernah. Apa kerja di perusahaan Jepang selama 5 thn lebih bisa di bilang prestasi? Ah, kayaknya nggak juga, banyak yang sampai belasan atau puluhan tahun malah. Apa menyusui sampai 2 thn bisa di bilang prestasi.. kayaknya juga nggak, karena ada yang bisa memberi ASI anak kembar sampai lebih 2 thn, dan ada juga yang member ASI diumur lebih dari 40thn.
Hadooh, jadi bingung. Apa membuat cake dan memberanikan diri jualan itu bisa di sebut prestasi? Kayaknya banyak yang lebih bagus, malah sampai buka bakery, lah… Bundakan hanya bakul kue rumahan saja yang sesekali dapet order.
Semakin lama berfikir semakin Bunda merasa seperti katak dalam tempurung, sepertinya Bunda tidak terlalu 'berprestasi'. Padahal Bunda selama ini sudah sangat berpuas diri, nyaman, bahagia dengan semua pencapaian. Melahirkan anak, berhenti bekerja, mengurus suami, mengurus anak, mengurus rumah dan sekarang mulai mencoba-coba berbisnis kecil-kecilan. Sangat puas.
Tapi, apa itu semua prestasi? Mana pialanya? Mana sertifikatnya? Kata siapa itu prestasi?
Sampai akhirnya, setelah puas bermain-main dengan fikiran didapat kesimpulan bahwa Bunda sedang minder secara psikologis.. hah? Minder? Bunda? Iya, bener minder.
Sebabnya mungkin sepele, karena fikiran tentang prestasi itu masih seperti waktu muda dulu. Waktu prestasi itu diukur dengan jabatan, dengan piala, dengan nilai akademik. Sekarang, sebagai ibu rumah tangga, ukuran prestasi tentu saja tidak bisa seperti itu. Iya kalau Bunda rajin ikut lomba-lomba dan menang, kenyataannya Bunda sudah jarang ikut lomba-lomba. Tidak pernah malah. Bunda terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Eh, pernah deh ikut lomba tangkep belut dan menjadi juara ke 3 waktu 17-an di Taman Kota ha..ha..ha..
Eniwey, sepertinya Bunda juga terjangkit ‘Penyakit ibu rumah tangga pada umumnya’ yaitu - mengutip kata Bu Winny – profesi sebagai ibu rumah tangga dirasa gak keren, gak membanggakan dan biasa-biasa saja. Dan keberhasilan membuat anak-anak sehat, terawat, lincah, pinter atau membuat rumah terlihat nyaman dan enak ditinggali itu semua dianggap sepele dan bukan prestasi. Di KTP saja ditulis Pekerjaan : Nurut Suami.. laahh.. pelecehan, emang kita gak ada kerjaan apa ikut-ikut suami?
Dan penyakit ini bisa semakin parah bila ibu rumah tangga seperti Bunda mulai melirik-lirik prestasinya teman yang mulai naik jabatan ini dan itu .. hadooohhh.. semakin terpuruk saja. La wong profesi ibu rumah tangga itu gak bakalan naik jabatan, sudah mentok tok di level itu saja.
Tapi, syukur alhamdulillah penyakit kronis itu segera pergi dari fikiran Bunda bersamaan dengan selesainya menghias cake pesanan orang.
Kesimpulannya prestasi seseorang itu gak bisa lagi dilihat dari banyaknya piala yang didapat, banyaknya sertifikat yang dihasilkan atau tingginya jabatan dikantor karena prestasi itu bisa juga berarti keberhasilan untuk bisa berbagi dengan sesama, bisa berguna untuk lingkungan atau bisa membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Akhir kata, sekarang dengan berbangga hati Bunda bisa menulis prestasi untuk diserahkan kepanitia sebagai berikut :
1. Menjadi pemilik Rumah Teladan Se-Komplek taman Kota Bekasi, tahun 2008
2. Memutuskan untuk berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya
3. Membuat cerpen dan membacakannya di acara HUT PWP tahun 2010
4. Menjadi pemilik, pengelola, pemegang saham, karyawan dan kurir Vini’s Cakery & Chocolate
Cukup berprestasi bukan? ^^v
Perlu beberapa menit sampai akhirnya Bunda tulis ‘Juara 1 lomba menggambar tingkat TK se DKI Jakarta’ trus Bunda kirim ke panitia.
Setelah terkirim Bunda jadi berfikir, kenapa untuk menulis prestasi terasa sulit ya? Kenapa yang di tulis malah prestasi waktu masih TK? Apa Bunda sama sekali tidak berprestasi selama ini?
Akhirnya, sambil mendekor kue pesanan orang jam 11 malam, fikiran Bunda melayang-layang. Kenapa sekarang ini sulit membanggakan prestasi yang pernah di raih, apa mungkin karena standar prestasi sudah bergeser, atau mungkin karena Bunda sekarang terkena penyakit minder?
Pagi ini Bunda baca statusnya tante Lian yang ternyata juga bingung untuk menulis prestasi. Tante Lian ini teman Bunda di PTB yang sama-sama harus isi tentang prestasi untuk kepentingan publisitas. Teman-teman yang lain dengan lancar menulis semua prestasinya. Ada yang berprestasi ikut lomba-lomba, ada yang berprestasi di bidang sosial, ada yang berprestasi di karirnya.. loh, Bunda kok gak berani menulis prestasi yang sudah Bunda dapat selama ini.
Jadi sebetulnya, apa sih prestasi itu? Apakah pencapaian yang luar biasa yang sudah dicapai selama ini. Apa betul begitu?
Dan yang segera terbersit dalam fikiran Bunda adalah “Prestasi, hmm.. kapan ya Bunda pernah dapat piala atau piagam dalam lomba-lomba?” duh, kok ya kayaknya gak pernah. Apa kerja di perusahaan Jepang selama 5 thn lebih bisa di bilang prestasi? Ah, kayaknya nggak juga, banyak yang sampai belasan atau puluhan tahun malah. Apa menyusui sampai 2 thn bisa di bilang prestasi.. kayaknya juga nggak, karena ada yang bisa memberi ASI anak kembar sampai lebih 2 thn, dan ada juga yang member ASI diumur lebih dari 40thn.
Hadooh, jadi bingung. Apa membuat cake dan memberanikan diri jualan itu bisa di sebut prestasi? Kayaknya banyak yang lebih bagus, malah sampai buka bakery, lah… Bundakan hanya bakul kue rumahan saja yang sesekali dapet order.
Semakin lama berfikir semakin Bunda merasa seperti katak dalam tempurung, sepertinya Bunda tidak terlalu 'berprestasi'. Padahal Bunda selama ini sudah sangat berpuas diri, nyaman, bahagia dengan semua pencapaian. Melahirkan anak, berhenti bekerja, mengurus suami, mengurus anak, mengurus rumah dan sekarang mulai mencoba-coba berbisnis kecil-kecilan. Sangat puas.
Tapi, apa itu semua prestasi? Mana pialanya? Mana sertifikatnya? Kata siapa itu prestasi?
Sampai akhirnya, setelah puas bermain-main dengan fikiran didapat kesimpulan bahwa Bunda sedang minder secara psikologis.. hah? Minder? Bunda? Iya, bener minder.
Sebabnya mungkin sepele, karena fikiran tentang prestasi itu masih seperti waktu muda dulu. Waktu prestasi itu diukur dengan jabatan, dengan piala, dengan nilai akademik. Sekarang, sebagai ibu rumah tangga, ukuran prestasi tentu saja tidak bisa seperti itu. Iya kalau Bunda rajin ikut lomba-lomba dan menang, kenyataannya Bunda sudah jarang ikut lomba-lomba. Tidak pernah malah. Bunda terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga. Eh, pernah deh ikut lomba tangkep belut dan menjadi juara ke 3 waktu 17-an di Taman Kota ha..ha..ha..
Eniwey, sepertinya Bunda juga terjangkit ‘Penyakit ibu rumah tangga pada umumnya’ yaitu - mengutip kata Bu Winny – profesi sebagai ibu rumah tangga dirasa gak keren, gak membanggakan dan biasa-biasa saja. Dan keberhasilan membuat anak-anak sehat, terawat, lincah, pinter atau membuat rumah terlihat nyaman dan enak ditinggali itu semua dianggap sepele dan bukan prestasi. Di KTP saja ditulis Pekerjaan : Nurut Suami.. laahh.. pelecehan, emang kita gak ada kerjaan apa ikut-ikut suami?
Dan penyakit ini bisa semakin parah bila ibu rumah tangga seperti Bunda mulai melirik-lirik prestasinya teman yang mulai naik jabatan ini dan itu .. hadooohhh.. semakin terpuruk saja. La wong profesi ibu rumah tangga itu gak bakalan naik jabatan, sudah mentok tok di level itu saja.
Tapi, syukur alhamdulillah penyakit kronis itu segera pergi dari fikiran Bunda bersamaan dengan selesainya menghias cake pesanan orang.
Kesimpulannya prestasi seseorang itu gak bisa lagi dilihat dari banyaknya piala yang didapat, banyaknya sertifikat yang dihasilkan atau tingginya jabatan dikantor karena prestasi itu bisa juga berarti keberhasilan untuk bisa berbagi dengan sesama, bisa berguna untuk lingkungan atau bisa membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Akhir kata, sekarang dengan berbangga hati Bunda bisa menulis prestasi untuk diserahkan kepanitia sebagai berikut :
1. Menjadi pemilik Rumah Teladan Se-Komplek taman Kota Bekasi, tahun 2008
2. Memutuskan untuk berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya
3. Membuat cerpen dan membacakannya di acara HUT PWP tahun 2010
4. Menjadi pemilik, pengelola, pemegang saham, karyawan dan kurir Vini’s Cakery & Chocolate
Cukup berprestasi bukan? ^^v
Kamis, 03 Juni 2010
Berita Duka di pagi hari
Pagi ini selesai sholat subuh Bunda seperti biasa langsung ambil BB untuk cek status teman dan sodara-sodara di FB. Bunda sangat terkejut membaca statusnya tante Daryati, tetangga kita di PT. Badak ini.
Teman2 di PT.Badak, mohon doanya utk kesembuhan bpk Hananto(suami dr sylvani hananto),yg koma d RSUD Bontang.mdh2an segera dberi kesembuhan.amin
begitu bunyi status FB-nya.
Aduh, Bunda kenal dengan tante Vani, Bunda juga pernah beberapa kali ketemu Salsa anaknya yang baru berusia 2 thn. Beberapa teman Bunda disini langsung pagi itu berangkat menuju RSUD Bontang tempat om Hananto di rawat. Bunda langsung BBM-an dengan tante Siriz, ajak pergi kesana sama-sama.
Duh, kaget dan sedih banget Bunda pagi ini..
Tante Vani itu usianya lebih muda dari tante Viti, cobaan yang dihadapinya berat banget. Dan Salsa juga masih kecil.. kalau inget itu sesak dada Bunda, rasanya ingin nangis saja. Bunda jadi inget mas Arka dan dede Argi, gimana kalau ada apa-apa dengan Ayah? Bunda gimana? mas Arka dan dede Argi sekolahnya gimana? Makannya? Apa bisa Bunda cari uang untuk biaya hidup mereka nanti?
Jam 14.00 WITA Bunda di jemput tante Siriz. Sepanjang perjalanan Bunda ngobrol dengan tante Siriz, ternyata kita berdua punya fikiran yang sama. Dengan kejadian ini kita semua jadi berfikir ulang dan seperti ditampar keras-keras untuk segera sadar diri, semua ini hanya titipan. Apapun bisa terjadi entah besok atau hari ini, kapanpun semua titipan ini bisa kembali ke pemiliknya, Allah SWT. DAn kita mau tidak mau harus siap.
Sedih banget Bunda waktu ketemu tante Vani. Beliau kelihatan tabah walau sesekali masih terlihat dia menghapus air matanya. Katanya tante Vany sedih karena besok Salsa ulang tahun yang ke 2 dan tante Vany serta om Hananto sudah rencana mau pesan cake ke Bunda bergambar Upin dan Ipin kesukaan Salsa.. hiks.. Bunda jadi ikutan sedih dengarnya, semoga Salsa bisa tabah ya nak.. dan tumbuh menjadi anak yang sholeha yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. amin.
Om Hananto sekarang masih dalam kondisi kritis, pembuluh darah diotaknya pecah dan sudah membanjiri otaknya. Bunda lihat di ruang ICU om hananto sudah di kateterisasi untuk mengeluarkan cairan diotaknya. Sekarang hanya tinggal doa, semoga om Hananto bisa melewati masa kritisnya dan bisa sembuh kembali. Amin.
Teman2 di PT.Badak, mohon doanya utk kesembuhan bpk Hananto(suami dr sylvani hananto),yg koma d RSUD Bontang.mdh2an segera dberi kesembuhan.amin
begitu bunyi status FB-nya.
Aduh, Bunda kenal dengan tante Vani, Bunda juga pernah beberapa kali ketemu Salsa anaknya yang baru berusia 2 thn. Beberapa teman Bunda disini langsung pagi itu berangkat menuju RSUD Bontang tempat om Hananto di rawat. Bunda langsung BBM-an dengan tante Siriz, ajak pergi kesana sama-sama.
Duh, kaget dan sedih banget Bunda pagi ini..
Tante Vani itu usianya lebih muda dari tante Viti, cobaan yang dihadapinya berat banget. Dan Salsa juga masih kecil.. kalau inget itu sesak dada Bunda, rasanya ingin nangis saja. Bunda jadi inget mas Arka dan dede Argi, gimana kalau ada apa-apa dengan Ayah? Bunda gimana? mas Arka dan dede Argi sekolahnya gimana? Makannya? Apa bisa Bunda cari uang untuk biaya hidup mereka nanti?
Jam 14.00 WITA Bunda di jemput tante Siriz. Sepanjang perjalanan Bunda ngobrol dengan tante Siriz, ternyata kita berdua punya fikiran yang sama. Dengan kejadian ini kita semua jadi berfikir ulang dan seperti ditampar keras-keras untuk segera sadar diri, semua ini hanya titipan. Apapun bisa terjadi entah besok atau hari ini, kapanpun semua titipan ini bisa kembali ke pemiliknya, Allah SWT. DAn kita mau tidak mau harus siap.
Sedih banget Bunda waktu ketemu tante Vani. Beliau kelihatan tabah walau sesekali masih terlihat dia menghapus air matanya. Katanya tante Vany sedih karena besok Salsa ulang tahun yang ke 2 dan tante Vany serta om Hananto sudah rencana mau pesan cake ke Bunda bergambar Upin dan Ipin kesukaan Salsa.. hiks.. Bunda jadi ikutan sedih dengarnya, semoga Salsa bisa tabah ya nak.. dan tumbuh menjadi anak yang sholeha yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. amin.
Om Hananto sekarang masih dalam kondisi kritis, pembuluh darah diotaknya pecah dan sudah membanjiri otaknya. Bunda lihat di ruang ICU om hananto sudah di kateterisasi untuk mengeluarkan cairan diotaknya. Sekarang hanya tinggal doa, semoga om Hananto bisa melewati masa kritisnya dan bisa sembuh kembali. Amin.
Sabtu, 29 Mei 2010
Kegiatan sore hari
Sore hari di Bontang adalah saatnya olahraga. Iya, bukan pagi-pagi.. eh, tapi ada juga sih yang suka olah raga pagi hari disini. Alasannya tidak banyak yang olah raga pagi adalah :
1. Saat pagi hari adalah saat yang paling sibuk, anak-anak sekolah, ayah-ayah ke kantor, belum lagi Bunda-bundanya harus ke pasar atau tukang sayur untuk persiapan makan siang ayah-ayah dan anak-anak..
2. Pagi hari mataharinya sangat kejam, panas sih nggak tapi bisa bikin kulit jadi belang he..he..
Nah, akhirnya kita sekeluarga kalau olahraga yaa sore hari aja, bisa berjamaah juga lho kalau olahraga sore, kan Ayah jam 4 lewat 10 sudah standby dirumah...
Dan lagi, didepan rumah kita itu ada jogging track dan lapangan basket, jadinya Arka-gi seneng main-main disana..
Hayyoo.. olah raga yuk...
1. Saat pagi hari adalah saat yang paling sibuk, anak-anak sekolah, ayah-ayah ke kantor, belum lagi Bunda-bundanya harus ke pasar atau tukang sayur untuk persiapan makan siang ayah-ayah dan anak-anak..
2. Pagi hari mataharinya sangat kejam, panas sih nggak tapi bisa bikin kulit jadi belang he..he..
Nah, akhirnya kita sekeluarga kalau olahraga yaa sore hari aja, bisa berjamaah juga lho kalau olahraga sore, kan Ayah jam 4 lewat 10 sudah standby dirumah...
Dan lagi, didepan rumah kita itu ada jogging track dan lapangan basket, jadinya Arka-gi seneng main-main disana..
Hayyoo.. olah raga yuk...
Minggu, 11 April 2010
Bunda Iseng
Bunda paling seneng fotoin Ayah, mas Arka dan dede Argi waktu tidur. Lucu, kompak banget!
Dalam hal posisi miring, posisi kepala, kesukaannya pakai guling semua kompak.. hihihihi...
Lihat deh... ^^

Selasa, 09 Maret 2010
Kejutan untuk Ayah
Ceritanya dengan riang gembira dan tekad bulat Bunda ingin bikin kejutan untuk ayah, maklum hari ini 7 tahun usia pernikahan Ayah dan Bunda. Tadinya mau bikin cake tapi aahh.. pasti Ayah gak suka, akhirnya Bunda putuskan untuk bikin nasi kuning beserta lauk-pauknya dan di bikin tumpeng kecil. Siip...
Rencana sudah matang, Bunda sudah hatam baca-baca di internet cara-cara bikin tumpeng, hiasan dan pernak-perniknya. Lauk pauknya yang standarnya tumpeng saja, sambel hati, urap, kering tempe, cabe isi dan ayamnya di opor.
Karena hari ini Arka dan Argi masuk sekolah jadi Bunda minta tolong suster untuk kepasar berdua mbak Yuni (mbak-nya tante Siris) pakai motor.
Skedule sudah matang nih, jam 9 pagi suster dan mbak Yuni kepasar, Bunda antar dede Argi lalu langsung pulang kerumah masak untuk makan siang Ayah, Jam 10 suster pulang dari pasar dan Bunda jemput mas Arka. Trus selama jam 10-13 WITA tugas suster siangi sayuran dan ayam, waktu Ayah berangkat lagi kekantor Bunda tinggal masak lauk-pauk untuk tumpeng. Siip..
Dilalahnya, semua rencana berantakan, jam 9 suster masih bolak-balik rumah- sekolah karena ketinggalan catatan belanjaan, kelupaan uangnya dll dsb. Sampai dipasar, semua yang di catatan ada kecuali cetakan tumpeng. Ya wes, gak papa deh cetakannya gak ada, bisa manual aja.
Jam 10:15 WITA kok belum pulang juga, Bunda mulai khawatir, Bunda langsung telpon suster. Astagfirullahaladziim, kunci motornya hilang!! Aduh, gimana sih kok bisa hilang?
Trus katanya mau di telusuri dulu sambil cari-cari di pasar. Ughh.. langsung badmood Bunda deh, kapan masaknya nih? Gimana kejutannya?
Jam 10:30 WITA Bunda telpon lagi, udah ketemu belum.. trus katanya belum ketemu..
Akhirnya Bunda telpon Ayah, kata Ayah minta aja kunci serep ke tante Siriz. Ya deh, akhirnya Bunda telpon tante Siriz, mudah-mudahan kunci serepnya ada.
Laaaammaaaaa banget baru nyambung ke tante Siriz, ternyata tante Siriz lagi pengajian, duh, maaf ya ganggu...
Tante Siriz juga kaget kunci motornya hilang, akhirnya setelah jemput dede Argi dan Rasif kita sama-sama ke rumah tante Siriz ambil kunci serep.
Jam 11:30 WITA Bunda baru jalan ke pasar jemput suster dan mbak Yuni, Arkagi terpaksa di titip di rumah tante Siriz. Sampai di pasar keliatan deh 2 mbak-mbak itu duduk loyo kebingungan di emperan pasar..
Jam 12.05 WITA Bunda sampai di rumah, Ayah sudah datang dan rumah masih terkunci.. duh, maaf ya.. lalu setelah Ayah makan siang jam 12:45 WITA Bunda jemput Arka dan Argi dari rumah tante Siriz. Lho, tapi kok mobil jadi bau ikan gini ya? Ternyata mbak Yuni beli ikan dan plastiknya bocor kekarpet bagasi.. oaaaallllaaaaaa.....
Karpet mobil langsung di keluarin oleh Ayah dan minta di cuci, Ayah langsung berangkat ke kantor lagi.
Begitu Ayah berangkat Bunda dan suster langsung braaakkk-brruuukkk... kerja bakti bikin tumpeng, mulai nyiang-nyiangi dan motong-motong sayurnya.
Bunda bikin sambel kentang, nasi kuning dan urapnya, suster tugas bikin kering tempe dan opor, apadaya dari 4 kompor hanya 2 yang bisa dipakai, jadi jam 15.45 WITA baru jadi nasi kuning dan kering kentang, duh, tampahnyapun baru sebagian di hias. Maunya begitu Ayah pulang tumpengnya sudah jadi, tapi gak mungkin kayaknya. Apalagi kacang panjang yang Bunda rencanain sebagian untuk pager tumpeng eee oleh suster di potong semua tanpa konfirmasi, akhirnya pager tumpeng pakai daun sawi aja deh.. hiks..
Jam 16.15 WITA Ayah pulang, mukanya cemberut karena Bunda lupa belum cuci karpet mobil.. hiks maaf yaa.. akhirnya Ayah sendiri yang cuci karpet mobilnya :(
Sepertinya kejutan kali ini gak sukses, karena tumpeng baru selesai jam 7.30 WITA malam (dengan hiasan yang seadanya), dan itu sudah lewat waktu makannya Ayah, dan Ayah keliatan sebel karena sudah terlalu lapar (iyalah, kan habis nyikat-nyikat karpet mobil)
Dan kacaunya lagi opornya ternyata terlalu cair serta kurang asin, dan sambel kentangnya kurang pedes, ada lagi cabe isi yang kata Ayah rasanya aneh.. :( dekorasi tupeng? Ayah no komen la wong jelek banget...
anyway, Happy Anniversary honey, maaf kejutannya ternyata tidak sesuai rencana hiks.......
Selesai semua, Bunda langsung tidur kecapean zzzzzzzzzzzzz........................
*and yes, I'm not happy at all..*
Sabtu, 06 Maret 2010
Paket dari Bude Rini
Seneng banget dapet paket goodybag ulang tahun dari bude Rini..
Lihat, mas Arka dan dede Argi semangat 45 membuka paketnya. Waktu mau di foto masnya sambil tersenyum manis bilang "makasih bude dan kakak2" sedangkan dede Arginya gak mau di foto karena sibuk dengan goodybagsnya, katanya "Bundaa... ini punya dede!"
Hihiih.. iya dekk. Bunda gak minta kookkk...

Lihat, mas Arka dan dede Argi semangat 45 membuka paketnya. Waktu mau di foto masnya sambil tersenyum manis bilang "makasih bude dan kakak2" sedangkan dede Arginya gak mau di foto karena sibuk dengan goodybagsnya, katanya "Bundaa... ini punya dede!"
Hihiih.. iya dekk. Bunda gak minta kookkk...

Selasa, 19 Januari 2010
Ayah di sidang mas Arka
Sambil santai-santai liatin mas Arka main game di HP ayah, Bunda pelan-pelan bilang gini :
Bunda: Mas Ayah hari Senin mau ke Balikpapan ya, seminggu aja kok, pulang hari Sabtu
Arka: oo.. (sambil terus main-nin HPnya Ayah)kok Ayah pergi terus.. (trus sambil nengok keayah yang lagi senderan santai di dinding)
Arka: Ayah.. ayah sini liat Arka, Arka mau ngomong sama Ayah.. (dengan nada tegas)
Ayah: (dengan wajah ceria, santai memperbaiki duduknya) iya mas.. apa?
Arka: Ayah gimana sih, Ayah pergi-pergi teru.. ke Yogya, ke Balikpapan udah berapa kali 3x, Arka baru 1 x.. Ayah pergi-pergi melulu... Arka, Bunda, Dede, Suster disini aja gak pergi-pergi.. (dengan nada menuduh, mengintimidasi, menghakimi)
Ayah: (Wajahnya berubah jadi gak enak... speachless kayaknya)
Bunda: (sambil ngelirik Ayah) Jadi mas Arka maunya gimana? Ayahkan pergi buat kerja, cari uang supaya mas Arka bisa sekolah..
Arka: Ayah bukan kerja, kata Bunda Ayah mau sekolah..
Bunda: Iya.. tapikan sekolahnya dari kantor ayah, disuruh oleh bos Ayah..
Arka: Iya tapi Ayah pergi-pergi terus jadinya, Arka, Bunda, Dede Suster nunggu rumah ajaaaaaa gak pergi-pergi........
Bunda: Jadi maunya gimana..
Arka: Maunya Arka juga pergi-pergi bair sama ke Balikpapannya 2x kayak Ayah..
Bunda: Oo jadi mas Arka juga mau ke Balikpapan?
Arka: Iya..
Bunda: Iya, nanti kita sama-sama ke Balikpapan
Arka: tapi Ayah jadinya 3x ke Balikpapan, Arka baru 2x..
Bunda dan Ayah bersamaan: Lho jadi maunya Ayah dirumah aja gitu?
Arka: Nggak, Ayah ikut juga tapi ayah jangan pergi-pergi melulu.. biar sama-sama aja kalau perginya..
Bunda dan Ayah pandang2an deh... Spechless... :p
Bunda: Mas Ayah hari Senin mau ke Balikpapan ya, seminggu aja kok, pulang hari Sabtu
Arka: oo.. (sambil terus main-nin HPnya Ayah)kok Ayah pergi terus.. (trus sambil nengok keayah yang lagi senderan santai di dinding)
Arka: Ayah.. ayah sini liat Arka, Arka mau ngomong sama Ayah.. (dengan nada tegas)
Ayah: (dengan wajah ceria, santai memperbaiki duduknya) iya mas.. apa?
Arka: Ayah gimana sih, Ayah pergi-pergi teru.. ke Yogya, ke Balikpapan udah berapa kali 3x, Arka baru 1 x.. Ayah pergi-pergi melulu... Arka, Bunda, Dede, Suster disini aja gak pergi-pergi.. (dengan nada menuduh, mengintimidasi, menghakimi)
Ayah: (Wajahnya berubah jadi gak enak... speachless kayaknya)
Bunda: (sambil ngelirik Ayah) Jadi mas Arka maunya gimana? Ayahkan pergi buat kerja, cari uang supaya mas Arka bisa sekolah..
Arka: Ayah bukan kerja, kata Bunda Ayah mau sekolah..
Bunda: Iya.. tapikan sekolahnya dari kantor ayah, disuruh oleh bos Ayah..
Arka: Iya tapi Ayah pergi-pergi terus jadinya, Arka, Bunda, Dede Suster nunggu rumah ajaaaaaa gak pergi-pergi........
Bunda: Jadi maunya gimana..
Arka: Maunya Arka juga pergi-pergi bair sama ke Balikpapannya 2x kayak Ayah..
Bunda: Oo jadi mas Arka juga mau ke Balikpapan?
Arka: Iya..
Bunda: Iya, nanti kita sama-sama ke Balikpapan
Arka: tapi Ayah jadinya 3x ke Balikpapan, Arka baru 2x..
Bunda dan Ayah bersamaan: Lho jadi maunya Ayah dirumah aja gitu?
Arka: Nggak, Ayah ikut juga tapi ayah jangan pergi-pergi melulu.. biar sama-sama aja kalau perginya..
Bunda dan Ayah pandang2an deh... Spechless... :p
Sabtu, 08 Agustus 2009
Bontang : First Day
Waahh.. akhirnya sampai juga di kota tempat Ayah mencari nafkah. Tadi berangkat pagi sekali dari rumahnya Akas, karena kita naik pesawat yang paling pagi. Ayah sholat subuh di Bandara Soekarno Hatta jadinya. Mas Arka dan dede Argi alhamdulillah nggak rewel selama perjalanan, malah semangat banget. Yaa iya lah, kan mereka sudah menunggu-nunggu untuk bisa ke Bontang sini selama hampir 5 bulan.. :)
Bunda juga sudah tidak sabar ingin ketemu tante Nana istrinya temen Ayah kuliah dulu, tante Nana itu temen Bunda di FB.
Sampe di Bontang kita sudah di jemput oleh om Auk dan tante Nana. Seneng banget, ternyata tante Nana itu tinggi dan mirip artis sinetron siapa gitu, lupa namanya. Dan om Auk kelihatan baik hati, iya lah.. kita sekeluarga sering banget nyusahin om Auk dan tante Nana dengan urusan kepindahan ini.
Bunda senang banget dengan kota Bontang ini, tepatnya siy dengan lingkungan komplek rumah tempat kita tinggal. Di PC4/173, rumahnya besar dengan 3 kamar, halamannya luas.. pokoknya tipe rumah idaman untuk membesarkan anak deh. Alhamdulillah.
Kompleknya tertata rapi, jalanan lebar dan bersih, lampu lalu-lintasnya pun ditaati bukan hanya oleh kendaraan bermotor, sepeda-pun berhenti loh kalo lampu merah walaupun jalanan sepi. Kalo mereka nerobos lampu merah malah malu sendiri karena semua warganya taat aturan.. duh, seneng banget, jadi disini gak bakalan strees liat jalanan semrawut.
sayangnya kita dapet rumah yang kosong. Maksudnya furniture didalamnya belum lengkap. Iya sih kita dapet lemari, kulkas, AC, kompor, tempat jemuran dll tapi tidak ada tempat tidur dan gorden.. walhasil hari pertama kita di Bontang, rumah kita terlihat seperti aquarium, tanpa gorden ha..ha.ha.. dan kita terpaksa ngungsi ke Apartemen Sawo Kecik. Suster Siti aja yang tidur di rumah.
Oiya, alhamdulillah suster Siti mau ikut kita, Bunda jadi terbantu banget.. makasih ya Sus.. :)
Bunda juga sudah tidak sabar ingin ketemu tante Nana istrinya temen Ayah kuliah dulu, tante Nana itu temen Bunda di FB.
Sampe di Bontang kita sudah di jemput oleh om Auk dan tante Nana. Seneng banget, ternyata tante Nana itu tinggi dan mirip artis sinetron siapa gitu, lupa namanya. Dan om Auk kelihatan baik hati, iya lah.. kita sekeluarga sering banget nyusahin om Auk dan tante Nana dengan urusan kepindahan ini.
Bunda senang banget dengan kota Bontang ini, tepatnya siy dengan lingkungan komplek rumah tempat kita tinggal. Di PC4/173, rumahnya besar dengan 3 kamar, halamannya luas.. pokoknya tipe rumah idaman untuk membesarkan anak deh. Alhamdulillah.
Kompleknya tertata rapi, jalanan lebar dan bersih, lampu lalu-lintasnya pun ditaati bukan hanya oleh kendaraan bermotor, sepeda-pun berhenti loh kalo lampu merah walaupun jalanan sepi. Kalo mereka nerobos lampu merah malah malu sendiri karena semua warganya taat aturan.. duh, seneng banget, jadi disini gak bakalan strees liat jalanan semrawut.
sayangnya kita dapet rumah yang kosong. Maksudnya furniture didalamnya belum lengkap. Iya sih kita dapet lemari, kulkas, AC, kompor, tempat jemuran dll tapi tidak ada tempat tidur dan gorden.. walhasil hari pertama kita di Bontang, rumah kita terlihat seperti aquarium, tanpa gorden ha..ha.ha.. dan kita terpaksa ngungsi ke Apartemen Sawo Kecik. Suster Siti aja yang tidur di rumah.
Oiya, alhamdulillah suster Siti mau ikut kita, Bunda jadi terbantu banget.. makasih ya Sus.. :)
Minggu, 31 Mei 2009
Kangen Ayah
Sekarang, sudah 3 bulan ini ritual tersebut nggak ada lagi. Rasanya aneh juga sih gak ada yang ditunggu setelah magrib, malah begitu adzan magrib berkumandang Bunda cepet-cepet gembok pager dan kunci pintu demi keamanan dan kenyamanan bersama. Ritual ayah yang suka dipanjat anak-anakpun sudah diganti jadi panjat-panjat Bunda ato suster. Yaah, walopun Bunda dan suster sudah berusaha ng'ganti-in perannya ayah, tetep aja anak-anak merasa kehilangan. Mereka suka asik ngobrol berdua ngomongin ayah, "ayah sekarang lagi ngapain ya dek dikantornya?" trus nanti adeknya jawab "lagi kerja sambil tidur kali.." trus mereka cekikikan. Ato masnya tanya "Bunda, dikantor ayah ada kamar mandinya gak? Gimana ayah mandinya? Gimana tidurnya?" karena disangkanya ayah itu standby aja dikantor karena gak pulang-pulang. Yang parahnya mas Arkanya sempet ngomong gini "Bunda, ayahnya Arka lagi sama Allah ya? Sudah meninggal ya?" astagfirullah, Bunda kaget banget dengernya pelan-pelan Bunda tanya "kok mas Arka bicara begitu?" trus dijawab dengan enteng "iya, karena ayah sudah nggak ada lagi disini, jadi pasti deh ada sama Allah" duh, sedih banget dengernya, buru-buru Bunda telpon ayah, trus masnya disuruh ngomong. Katanya setelah ngobrol ditelpon sama Ayah "ooo ternyata Ayah Irfan masih ada, ternyata ada dikantor.." ampuun dehh mas, bikin Bunda sedih aja... lalu Bunda bilang nggak boleh ngomong meningal-meninggal lagi ya, tidak baik.
Kalo Adek Arginya malah sampai detik ini nggak mau tidur ditempat tidur atas bareng Bunda dan mas Arka, maunya di tempat ayah dikasur bawah. Kadang dede Arginya ngigo ketawa-tawa sambil cekikikan bilang
Ada cerita lain sejak ayah di Kalimantan. Gini nih, ternyata masnya denger waktu sebelum berangkat ayah berbisik ditelinga mas Arka yang lagi tidur pesannya "Jaga Bunda dan dede ya..". Nah, jadinya semenjak ayah di Kalimantan masnya suka jaga-in Bundanya, Bunda gak boleh tidur dipinggir takut jatuh, Bunda gak boleh angkat yang berat-berat (mungkin pernah denger Ayahnya ngomong gini ya?), trus kalo ada makanan pasti deh dikasih ke Bunda duluan baru ke dede Argi. Lucunya kalo Bundanya marah ke dede Argi masnya belain dede-nya sambil pasang badan ngomong gini "Bunda, lihat dede Argi-nya jadi nangiskan? Hayoo Bunda minta maaf sama dede Argi, dede Argi juga minta maaf sama Bunda sambil janji nggak tumpah-tumpahin air dikasur Bunda lagi.. hayoo dua-duanya berpelukan.." ck..ck..ck.. jadi terharu liatnya, niru siapa siiihhh..??
Kemudian masnya memproklamirkan diri sebagai ayah Arka, jadi dedenya manggilnya Ayah Arka bukan mas Arka qiqiqiqiiqi.. lucu banget. Trus masnya suka pura-pura pergi kekantor, pulangnya telpon dulu minta buka pager, trus dedenya disuruh salim, trus pura-pura sholat, trus baca koran... aduh, hebat banget, sampe tau ritual ayah!
Ada lagi cerita lainnya, waktu ayah pulang sebentar nengok kita, mas Arka kira Ayah nggak akan pergi lagi. Jadi dia saaaaaaaaangat kecewa waktu ayah ternyata berangkat lagi ninggalin dia. Hanya 1 menit setelah ayah berangkat masnya nangis kejer, air matanya tumpah sambil sesegukan dia bilang gini "kok ayah kekantor yang jauh nggak ajak Arka.... huuuu..huu..hu...." trus mukanya ditutupin bantal sambil masih sesegukan "kenapa ayah pergi lagi Bunda? uangnya gak usah banyak-banyak gak papaaa... kantor ayah yang deket aja.. bhuuuu..huuu..hu.." trus sesegukan lagi, Bundanya jadi sedih juga jadi cuman bisa elus-elus kepalanya mas sambil bilang "gak papa mas, nanti juga ayah pulang lagi, cuman sebentar kok, tgl 4 Juli nanti kita sama-sama ikut ayah.." masnya tambah kejer "maunya sekarangg.... ayah nggak usah pergii.." trus Bunda ambil kalender, tunjukin tgl 4 Juli, Bunda kasih tanda "nih, lihat mas.. tgl 4 Juli nggak lama kok.." masnya lirik kalendernya, matanya masih merah dan basah lalu bilang gini "tapi tgl 4 Juli Arka ikuta ya? dede juga, Bunda juga, sukster juga.." Bunda senyum trus bilang "iya.. insya allah ya.. nanti kita sama-sama ketempat ayah, naik pesawat, lihat laut, lihat hutan.." alhamdulillah tangisnya reda. Tapi sejak hari itu dede Arginya serring banget ngomong gini "loh kok ayahnya pergi-pergi terus? dede jadi gak punya ayah dehh.." towewewewewew....
Kalo main pet Societypun (itu loh main virtual pet di FB) mas-nya tiap hari mengunjungi petnya ayah. Dimandi-in disisirin.. katanya biar ayahnya nggak dilalerin he..he..he.. trus waktu lomba lari, masnya nggak mau pilih ayah lagi sebagai lawan, katanya kasian kalo ayah kalah, nanti ayah sedih. Karena waktu awal-awal main pernah 2x milih petnya ayah sebagai lawan ee.. ayahnya kalah terus, akhirnya mas Arkanya nggak tega dan dia memutuskan untuk pura-pura kalah, pura-pura kesandunglah, pura-pura terpeleset dll.. So sweet ya ^_^
Senin, 01 Desember 2008
Dipuji Ayah, duh, jadi ge-er...
Padahal Bunda lahir dari keluarga yang seneng banget muji, maksudnya akas dan embay itu tipe ortu yang senang membesarkan hati anak dengan kalimat-kalimat pujian. Ya.. efektif sih buat Bunda, karena Bunda jadi semangat ngerjain apa-apa karena ingin denger pujian itu qiqiqi. Bunda jadi rajin bikin sambel karena akas bilang sambel bikinan Bunda enak.. qeqeqe, Bunda jadi rajin mati-in lampu karena embay bilang "Verry good!", Bunda ikutan lomba lukis karena akas dan embay bilang lukisan Bunda bagus, banyak deh hal-hal kecil yang dipuji oleh Akas dan Embay.
Jeleknya, begitu ketemu orang seperti Ayah, yang dikiittt banget ngasih pujian, Bunda jadi down (pertama-tama seh) segalanya dikritik. Sebel, sebel, sebel, tapi Bunda jadi penasaran juga. Bikin kue, gak enak, bikin sayuran gak enak, duh.. sebel.. akhirnya Bunda coba-coba terus sampe Ayah bilang "lumayan" ato "enak" tapi dengan muka datar.
Tapi no problem, dibilang lumayan juga Bunda udah alhamdulillah wa syukurillah!
Nah, balik ke urusan nyanyi. Begitu turun dari panggung Bunda disambut Ayah dengan tepukan dipunggung lhoo, katanya : " good-good.. gak malu-maluin.." langsung kembang-kempes deh hidung Bunda karena ge-er. Sekarang aja kembang kempes lagi nih... hihihihi...
Rabu, 10 September 2008
Tanpa Pembantu
Minggu, 24 Agustus 2008
Rumah Teladan
Tadi pagi Ayah bilang rumah kita dapet piagam sebagai rumah teladan se Taman Kota. Hah? Gak salah tuh? Secara dikompleks ini banyak banget rumah yang bagus dan keren-keren. Pasti Ayah dibohongin oleh pak RT nih... fikir Bunda. Ternyata malam ini Piagam itu bener-bener ada lho, dan rumah kita bener-bener kepilih sebagai rumah Teladan se RW!! Horreee...!! Katanya bu RT sih piagam itu dikasih pada waktu acara panggung 17-an di kolam renang City Club (kolam renangnya komplek, tempat ngumpul warga) tapi Ayah dan Bunda gak dateng karena pas tukang pasang Aora dateng masang antena Aora, jadinya diwakilin pak RT dweh ngambil Piagamnya. Nah, malem ini pas acara panggung 17-an RT baru deh Ayah dan Bunda terima Piagamnya.. Hu-huuyy.. senengnya Bunda, ge-er juga sih dikit (keliatankan muka ge-ernya di foto hi..hi..hi..) Diakui gitu loh sebagai rumah yang bersih, indah, asri dan sehat. Alhamdulillah, gak sia-sia kerjaan Bunda nyikat bak sampah didepan rumah ha..ha..ha.. sayang ya piagamnya gak sekalian di pigura, biar sekalian di pajang didinding rumah gitu loohh, jadi harga rumah bisa naik nihh....
Kamis, 14 Agustus 2008
Lihat Taman Kami
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.





